Teori Kognitif

 

 

A.      Konsep dan Ciri-Ciri Teori Belajar Psikologi Kognitif.

Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap  perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.

Ciri – ciri aliran belajar kognitif :

1.           Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia.

2.           Mementingkan peranan kognitif.

3.           Mementingkangkan kondisi waktu sekarang.

4.           Mementingkan pembentukan struktur kognitif.

5.           Mengutamakan keseimbangan dalam diri manusia.

6.           Mengutamakan insight (pengertian, pemahaman).

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).

Teori Belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seorang ditentukan oleh presepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan presepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.

Teori kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-membagi situasi / materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecilkecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah ,akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan,retensi,pengolaan informasi,emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya(Budiningsih,2005 : 34).

B.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif

Faktor-Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif:

 

1.           Fisik

Interaksi antara individu dan dunia luar (pengalaman fisik) merupakan

sumber pengetahuan baru. Ketika anak-anak melakukan beragam gerakan fisik dan beraktivitas bervariasi, secara tidak langsung mereka akan meningkatkan koordinasi tubuhnya. Ketika itu anak-anak dapat sekaligus berintekasi dengan lingkungan sekitarnya, mereka akan bereksplorasi, menguji coba, mengamati, serta akan mengorganisasikan informasi yang diperoleh dan tentunya hal-hal tersebut akan membuat proses-proses berpikir mereka berjalan. Tetapi kontak dengan dunia fisik tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.

2.           Kematangan

Kematangan sistem syaraf memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan yang mana sangat mempengaruhi bagaimana seseorang dapat memahami dunia sekitarnya. Proses pematangan biologis dikendalikan oleh gen yang perkembangannya berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.


Setiap gen akan menunjukkan aksinya secara perlahan-lahan dan tampak sebagai sesuatu yang telah terprogram secara genetis. Yang dapat dilakukan untuk membantu proses pematangan yaitu dengan memberikan nutrisi yang cukup sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan sehat dan perkembangan kognitif dari faktor kematangan biologis dapat berlangsung dengan normal.

3.           Pengaruh sosial

Lingkungan sosial termasuk peran bahan dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif. Suatu individu harus berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitarnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif dari individu itu sendiri bersamaan dengan terjadinya tranmisi sosial (belajar dari orang lain). Dengan transmisi sosial suatu individu dapat belajar dengan banyak dan cepat serta efisien.

4.           Proses pengaturan diri sendiri yang disebut ekuilibrasi (penyeimbangan)

Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pangalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan. Penyeimbangan terjadi ketika seseorang secara terus-menerus harus memproses informasi baru yang didapat lalu mengeceknya dengan informasi atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya..

C.      Teori-teori Belajar Kognitif

1.           Teori Gestalt

Teori Gestalt menekankan keseluruhan dan kesatupaduan. Sebagai langkah awal, penting sekali mengenali pondasi yang mengkonstruksi teori ini. Menurut psikologi gestalt, keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian- bagiannya atau membagi-bagi berarti mendistorsi. Kita tidak akan dapat memahami atau menikmati pengalaman mendengarkan simfoni musik orchestra dengan menganalisa konstribusi musisi-musisi yang bermain di dalamnya secara terpisah. Atau kita juga tidak mungkin dapat menikmati keindahan sebuah lukisan bila melihat bagian-bagiannya secara terpisah. Pada pokoknya, psikologi gestalt selalu memberi penekanan pada totalitas atau keseluruhan, bukan pada bagian-bagian.

Berbeda dengan kaum behavioral yang berpendapat bahwa belajar adalah pengalaman empiris, maka menurut Gestaltis belajar adalah fenomena konitif. Kognisi sendiri dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencerminkan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Oleh sebab itu belajar merupakan proses mental dan aspek-aspek belajar adalah unik bagi spesies manusia.

Ahli-ahli gestalt juga beranggapan bahwa benda-benda hidup berbeda dengan mesin, selalu hidup dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field (medan persepsi). Setiap medan persepsi memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Oleh karena itu, Psikologi gestalt menekankan adanya pengorganisasian proses-proses dalam persepsi, belajar dan problem solving dan juga mempercayai bahwa setiap individu diarahkan untuk mengorganisasikan serpihan informasi yang bersumber dari beragam cara atau proses. Pengorganisasian inilah yang kemudian mempengaruhi makna yang dibentuk.

Teori Gestalt juga menganut pandangan yang berbeda dalam memandang problem tubuh-pikiran. Teori ini mengasumsikan adanya Isomorphism yakni adanya hubungan antara aktivitas otak dengan kesadaran, antara pengalaman psikologis dengan proses yang ada di dalam otak. Psikolog Gestalt berkali-kali menyatakan pendapatnya bahwa dunia fenomenal (kesadaran) adalah ekspresi yang akurat dari situasi. Kesadaran pula yang menjadikan semua informasi sensoris menjadi bermakna.

Dalam kaitannya dengan pokok-pokok teori belajar menurut aliran Gestalt, disamping hukum-hukum pengamatan yang menentukan proses belajar, menurut aliran ini insight adalah inti dari belajar. Insight dapat diartikan pemahaman atau pencerahan sehingga seorang pelajar dapat menyelesaikan problem maupun tugas belajar. Maka menurut aliran ini, remedial atau pengulang-ulangan materi bukan hal penting walaupun belajar dengan insight dapat juga diulangi. Contoh: pengulang-ulangan dalam melakukan latihan soal- soal UN membuat siswa mungkin dapat menjawab soal saat ujian berlangsung namun belum tentu dia memahami substansi soal sehinga bila soal berbeda dengan rumus yang sama belum tentu dia dapat menyelesaikannya. Belajar dengan insight membuat siswa memahami subtansi masalah hingga bila soal diulang dalam format berbeda ia masih dapat menyelesaikannya.


Tokoh ini mengemukakan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

a.         Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian

b.        Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan

c.         Intelektual siswa

d.        Mengatur suasana kelas agar siswa termotivasi untuk belajar.

2.           Teori Cognitive-field dari Kurt Lewin

Teori Medan (Field Theory) Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam satu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hanbatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk ke dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya.

Menurut teori ini belajar berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Kurikulum sekolah dengan segala macam tuntutannya, berupa kegiatan belajar di dalam kelas, laboratorium, di workshop, di luar sekolah, penyelesaian tugas-tugas, ujian-ulangan dan lain-lain, pada dasarnya merupakan hambatan yang harus diatasi.

Menurut Lewin belajar terjadi akibat adanya perubahan struktur kognitif. Perubahan kognitif adalah hasil dari dua macam kekuatan yaitu struktur medan kognitif dan motivasi internal individu. Apabila seseorang belajar, maka dia akan tambah pengetahuannya. Artinya tahu lebih banyak dari pada sebelum ia belajar. Ini berarti ruang hidupnya lebih terdiferensiasi, lebih banyak subregion yang dimilikinya, yang dihubungkan dengan jalur-jalur tertentu. Dengan kata lain orang tahu lebih banyak tentang fakta-fakta dan saling berhubungan antara fakta-fakta itu.

Perubahan struktur pengetahuan (struktur kognitif) dapat terjadi karena ulangan; situasi mungkin perlu diulang-ulang sebelum strukturnya berubah. Akan tetapi yang penting bukanlah bahwa ulangan itu terjadi, melainkan bahwa struktur kognitif itu berubah. Dengan pengaturan masalah (problem) yang lebih baik, struktur mungkin dapat berubah dengan ulangan yang sangat sedikit. Hal ini telah terbukti dalam eksperimen mengenai insight. Terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar; sebaliknya ulangan itu mungkin menyebabkan kejenuhan psikologis (psychological satiation) yang dapat membawa disorganisasi (kekacauan) dan dediferensiasi (kekaburan ) dalam sistem kognitif.

Perubahan dalam struktur kognitif ini untuk sebagian berlangsung dengan prinsifp pemolaan (patterning) dalam pengamatan, jadi disinilah lagi terbukti betapa pentingnya pengamatan itu dalam belajar. Perubahan itu disebabkan oleh kekuatan yang telah intrinsik ada dalam struktur kognitif. Tetapi struktur kognitif itu juga berubahubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu. Disinilah terjadi belajar dengan motivasi.

3.  Teori Belajar Bermakna Ausubel. Menurut Ausubel ada dua jenis belajar :

1)  Belajar bermakna (meaningful learning).

2)  belajar menghafal (rote learning).

Belajar bermakna adalah suatu proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal adalah siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna.

Sebagai ahli psikologi pendidikan Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa di sekolah, dengan memperhatikan/memberikan tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar melalui bahasa (meaningful verbal learning). Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dari informasi verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau bersama-sama. Oleh karena itu belajar dengan prestasi hafalan saja tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka, menurut Ausubel supaya proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa menemukan sendiri semuanya. Malah, ada bahaya bahwa siswa yang kurang mahir dalam hal ini akan banyak menebak dan mencoba-coba saja, tanpa menemukan sesuatu yang sungguh berarti baginya. Seandainya siswa sudah seorang ahli dalam mengadakan penelitian demi untuk menemukan kebenaran baru, bahaya itu tidak ada; tetapi jika siswa tersebut belum ahli, maka bahaya itu ada.

Ia juga berpendapat bahwa pemerolehan informasi merupakan tujuan pembelajaran yang penting dan dalam hal-hal tertentu dapat mengarahkan guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Dalam hal ini guru bertanggung jawab untuk mengorganisasikan dan mempresentasikan apa yang perlu dipelajari oleh siswa, sedangkan peran siswa di sini adalah menguasai yang disampaikan gurunya.

Belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful learning) yang dikemukakan oleh Ausubel adalah bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Belajar seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna, materi yang dipelajari di asimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dipunyai sebelumnya. Untuk itu diperlukan dua persyaratan :

a.         Materi yang secara potensial bermakna dan dipilih oleh guru dan harus                 sesuai

b.        dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu peserta didik.

c.  Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna, faktor motivasional  memegang peranan penting dalam hal ini, sebab peserta didik tidak akan mengasimilasikan materi baru tersebut apabila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan bagaimana melakukannya. Sehingga hal ini perlu diatur oleh guru, agar materi tidak dipelajari secara hafalan.

Berdasarkan uraian di atas maka belajar bermakna menurut Ausubel adalah suatu proses belajar di mana peserta didik dapat menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dan agar pembelajaran bermakna, diperlukan dua hal yakni pilihan materi yang bermakna sesuai tingkat pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki siswa dan situasi belajar yang bermakna yang dipengaruhi oleh motivasi.


4.           Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Teori perkembangan kognitif disebut pula teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan mental. Menurut Piaget, perkembangan kognitif adalah suatu proses genetik yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Piaget cenderung menganut teori psikogenesis, artinya pengetahuan sebagai hasil belajar berasal dari dalam individu. Proses berpikir anak merupakan suatu aktivitas gradual, tahap demi tahap dari fungsi intelektual, dari konkret menuju abstrak.

Menurut Piaget Secara garis besar skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya dibagi dalam empat periode utama atau tahapan-tahapan sebagai berikut :

1.Tahap sensori motor ( sejak lahir sampai sekitar 2 tahun) 2.Tahap pra-operasional ( sekitar usia 2 – 7 tahun) 3.Tahap operasional konkret ( sekitar 7- 11 tahun)

4.Tahap operasional formal ( usia 11 tahun dan seterusnya)

Perkembangan skema adalah universal dalam urutannya, artinya semua pembelajar di seluruh dunia memang harus melewati tahap sensori motor sampai kepada tahap operasional formal. Menurut Piaget (Semiawan, 2002 : 51-52) semua perkembangan skema bersifat universal bagi seluruh umat manusia, sehingga implikasinya bagi pendidikan adalah kita tidak dapat mengajarkan sesuatu pada seseorang bila belum ada kesiapan yang merujuk kepada kematangannya.

Piaget mengembangkan konsep adaptasi dengan dua varian yaitu asimilasi dan akomodasi. Adaptasi yaitu struktur fungsional, sebuah istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan pentingnya pola hubungan individu dengan lingkungannya dalam proses pengembangan kognitif. Akomodasi yaitu menciptakan langkah baru atau memperbaharui atau menggabungkan isitlah/konsep lama menghadapi tantangan baru. Jadi, asimilasi terjadi perubahan pada objeknya, sedangkan pada akomodasi perubahan pada subjeknya, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan objek yang ada diluar dirinya.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1.           Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa.

2.      Anak-anak akan belajar lebih baik bila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.

3.           Bahan yang harus dipejarai anak hendaknya dirasakan sebagai bahan baru tetapi tidak asing.

4.           Berikan     peluang     agar     anak     belajar     sesuai dengan      tahap perkembangannya.

5.           Didalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.


Konsep Piaget langkah-langkah pembelajaran meliputi aktivitas sebagai berikut:

1.           Menentukan tujuan pembelajaran

2.           Memilih materi pembelajaran

3.           Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif

4.           Menentukan kegiatan belajar yang sesuai dengan topik-topik

5.           Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreativitas dan cara berpikir siswa

6.           Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

5.           Teori Discovery Learning dari Jerome S. Bruner

Dasar teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif saat belajar di kelas. Konsepnya dalah belajar dengan menemukan, siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak.

Menurut Bruner seiring dengan terjadinya pertumbuhan kognitif para pembelajar harus melalui tiga tahapan perkembangan intelektual itu menurut Bruner meliputi :

1.    Enaktif, seseorang belajar tentang dunia melalui respon atau aksi terhadap suatu objek.

2.          Ikonik, pembelajarn terjadi melalui penggunaan model dan gambar- gambar dan visualisasi verbal.

3.         Simbolik, siswa mampu menggambarkan kapasitas berpikir dalam istilah yang abstrak.


Tujuan pokok pendidikan menurut Bruner adalah guru harus memandu para siswa sehingga mereka dapat membangun basis pengetahuannya sendiri dan bukan karena diajari melalui memorisasi hafalan.

Teori pembelajaran dari Jerome Bruner adalah teori pembelajaran konsep atau pembelajaran kategori atau dikenal sebagai pemerolehan konsep.

Jadi, pembelajaran konsep adalah strategi yang mempersyaratkan seorang pembelajar untuk membandingkan dan mengontraskan seorang pembelajar untuk membandingkan dan mengontraskan kelompok-kelompok atau kategori-kategori yang mengandung cirri-ciri konsep yang relevan dengan kelompok atau kategori yang tidak mengandung cirri-ciri konsep yang relevan.

Langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner sebagai berikut :

 

1.        Menentukan tujuan pembelajaran

2.        Melakukan identifikasi karakteristik siswa

3.        Memilih materi pelajaran

4.        Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif

5.        Mengembangkan bahan-bahan belajar

6.        Mengatur topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, dari tahap enaktif, ikonik, ke simbolik

7.        Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

6.           Perkembangan Kognitif menurut Vygotsky

Dalam membahas teori perkembangan kognitif menurut Vygotsky, ada beberapa aspek yang perlu ditelaah, yaitu

a.         Kognitif Berkembang Secara Alamiah

Penelitian yang dilakukan oleh Vygotsky tentang perkembangan kognitif manusia dilakukannya dalam suasana yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada subjek penelitiannya untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat diobservasi. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli perkembangan kognitif lainnya yang secara ketat mengendalikan prilaku subjek penelitiannya dalam kondisi yang telah dirancang sebelumnya. Dalam melaksanakan penelitiannya, Vygotsky menerapkan tiga teknik berikut:


   Teknik pertama, yaitu memberikan berbagai kendala pada subjek penelitiannya yang dapat dipecahkan dengan pemecahan masalah biasa, misalnya meminta anak yang menguasai bahasa asing untuk menyelesaikan tugas kelompok dengan anak yang tidak menguasai bahasa asing.

   Teknik kedua dilakukan dengan memberikan alat yang dapat digunakan oleh anak untuk memecahkan masalahnya. Dalam kondisi yang bervariasi, anak-anak yang berbeda usianya diharapkan dapat menggunakan alat tersebut dengan berbagai cara yang berbeda.

   Teknik ketiga dilakukan dengan jalan meminta anak untuk memecahkan masalah diluar kemampuannya. Dalam fase ini, Vygotsky menemukan anak mulai mengembagkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

b.        Interaksi Sosial

Tema utama dari teori Vygotsky adalah bahwa interaksi sosial memegang peranan utama dalam perkembangan kognitif. Vygotsky mengemukakan bahwa perkembangan fungsi budaya pada anak terjadi dalam dau fase berikut ini:

   Interaksi sosial yang terjadi pada lingkungan sosial di sekitar anak. Dalam hal ini, interaksi anak dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, yang disebutnya dengan istilah interpsychological process.

   Interaksi sosial yang terjadi dalam diri anak yang disebutnya dengan istilah intrapsychological process.

Kedua proses tersebut diatas, melibatkan perhatian, berpikir logis dan formasi konsep. Oleh sebab itu, semua kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan hasil interaksi antara pengalaman pengalaman aktual antar individu dengan lingkungannya.

c.         Media Budaya dan Internalisasi

Dalam meneliti hubungan antara perkembangan kognitif dan interaksi sosial, yang berfungsi sebagai perantara atau mediasi budaya pada anak, Vygotsky mengemukakan bahwa interaksi sosial yang berfungsi sebagai perantara budaya berlangsung dalam komunikasi interpersonal antara anak dengan orang tua atau teman sebayanya. Melalui proses ini, perkembangan


mental tingkat tinggi berkembang sejalan dengan perkembangan budaya di sekitar anak.

Melalui interaksi sosial tersebut, anak belajar kebiasaan-kebiasaan dan cara berpikir seperti yang diungkapkannya dalam bahasa lisan, bahasa tertulis dan simbol-simbol yang mengandung makna tertentu dalam kebudayaannya. Selanjutnya, anak akan membangun pengetahuannya yang berkaitan denagn berbagai pengalaman interaksi sosial yang dialaminya. Proses ini disebut Vygotsky dengan istilah cultural mediation (media budaya) dan proses mental yang terjadi didalamya disebut dengan istilah internalization (internalisasi).

Internalisasi dapat dijelaskan sebagai pemahaman terhadap knowing how. Misalnya, dengan kemampuannya sendiri anak menuangkan air ke dalam gelas dengan hati-hatiagar tidak tumpah adalah hasil dari pemahaman atau proses internalisasi tentang perilaku yang harus dilakuakan pada waktu menuangkan air ke dalam gelas. Perilaku ini merupakan hasil interaksi sosial dengan oreng-orang di sekitarnya dan dalam hal ini terjadi mediasi kultural.

Contoh lain yang dapat dikemukakan tentang pemahaman anak adalah terhadap arti perkataan yang diungkapkan dengan suara lembut bererti senang dan ramah, dan perkataan yang diungkapakan dengan suara kasar berarti marah. Melalui proses internalisasi atau pemahamannya tentang suara tersebut, anak akan memberikan yang sesuai seperti tertawa atau tersenyum atau menangis karena takut dimarahi.

d.        Zone of Proximal Development atau ZPD

Aspek terakhir dari teori Vygotsky mengenai perkembangan kognitif adalah zone of proximal development. Vygoysky mendefinisikan ZPD sebagai jarak antara kemampuan yang dikuasai yang tercermin dari kemampuan dalam memecahkan masalah secara mandiri dan kemampuan yang sedang berkembang dan membutuhkan pertolongan melalui interaksi sosial, yang dapat dilihat dari kemampuan anak dalam memecahkan suatu masalah dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang telah memilikikemampuan tersebut. Vygotsky meyakini bahwa bila siswa berada dalam area ZPD untuk tugas-yugas belajar tertentu perlu diberikan bantuan atau scaffolding, tanpa bantuan tersebut maka siswa akan mendapat


berbagai kesulitan dan kurang berhasil dalm menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut dengan baik..

D.      Implikasi Teori Belajar Kognitif Dalam Pendidikan

Implikasi Teori Kognitif dalam Pendidikan

 

a.         Individu dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri

Yang menjadi titik pusat dari teori belajar kognitif ialah individu mampu mengalami kemajuan tingkat Perkembangan kognitif atau pengetahuan ke tingkat yang lebih Tinggi. Maksudnya adalah pengetahuan yang dimiliki oleh Setiap individu dapat dibentuk dan dikembangkan oleh Individu sendiri melalui interaksi dengan lingkungan yang terus-menerus dan selalu berubah. Dalam berinteraksi dengan Lingkungan tersebut, individu mampu beradaptasi dan Mengorganisasikan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan Dalam struktur kognitifnya, pengetahuan, wawasan danpemahamannya semakin berkembang. Atau dengan kata lain, individu dapat pintar dengan belajar sendiri dari lingkungannya.

Walaupun demikian, pengetahuan yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, adakalanya tidak persis sama dengan apa yang diperoleh dari lingkungan itu. Individu mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri, mampu memodivikasi pengalaman yang diperoleh dari lingkungan, sehingga melahirkan pengetahuan atau temuan-temuan baru. Hal ini terbukti banyak ilmuwan yang menghasilkan temuan-temuan baru yang selama ini tidak dipelajari di bangku sekolah. Oleh karena itu, proses pendidikan bukan hanya sekedar transfer of knowledge, tetapi juga bagaimana merangsang struktur kognitif inadividu sehingga mampu melahirkan pengetahuan dan temuan-temuan baru.

b.        Individualisasi dalam pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, perlakuan terhadap individu harus didasarkan pada perkembangan kognitifnya. Atau dengan kata lain, dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan individu. Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Hal ini disebabkan karena setiap tahap perkembangan kognitif memiliki karakteristik berbeda-beda. Susunan saraf seorang akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya umur. Hal ini


memungkinkan kemampuannya semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Penjenjangan ini bersifat hirarki, yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu yang diluar kemampuan kognitifnya.

Tingkat perkembangan peserta didik harus dijadikan dasar pertimbangan guru dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt (dalam Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono) mempraktekkan di dalam program pendidikan TK yang menekankan pada perkembangan sensorimotoris dan praoperasional. Misalnya: belajar menggambar, mengenal benda, menghitung dan sebagainya. Seorang guru yang bila tidak memperhatikan tahapan-tahapan perkembangan kognitif, maka akan cenderung menyulitkan siswa. Contoh lain, mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang shalat kepada sekelompok siswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk mengkongkretkan konsep-konsep tidak hanya sia-sia, tetapi justru akan lebih membingungkan Siswa.

Dalam proses pembelajaran juga harus memperhatikan Tingkat perkembangan peserta didik. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, guru harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

c.         Partisipasi aktif individu dan mengenal perbedaan.

Dalam proses pembelajaran harus menekankan pada cara Individu mengorganisasikan apa yang telah dialami dan dipelajari. Sehingga dengan demikian individu mampu menemukan dan mengembangkan sendiri konsep, teori-teori dan prinsip-prinsip melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya. Untuk mewujudkan hal tersebut, harus diciptakan lingkungan yang mendukung individu untuk melakukan eksplorasi dan menemukan gagasan-gagasan baru.

Oleh karena itu tujuan pembelajaran bukan sepenuhnya untuk memperoleh pengetahuan semata. Tetapi yang terpenting adalah melatih kemampuan intelek atau kognitif siswa, merangsang keinginan tahu, dan memotivasi siswa. Tujuan pembelajaran hanya diuraikan secara garis besar dan dapat dicapai dengan cara-cara yang tidak perlu sama oleh siswa yang mengikuti pelajaran yang sama.68 Atau dengan kata lain, tujuan pembelajaran


hanya diuraikan secara garis besar. Untuk mendalami, merinci dan mempertajam tujuan pembelajaran tersebut diperlukan peran aktif siswa disesuaikan dengan potensi dan tingkat perkembangan siswa. Walaupun demikian, pembelajaran terhadap individu tidak harus menunggu individu mencapai tahap perkembangan tertentu. Individu dapat mempelajari sesuatu meskipun umurnya belum memadai, asalkan materi pembelajaran disusun berdasarkan urutan isi dan disesuaikan dengan karakteristik kognitifnya.

 

d.        Guru sebagai tutor, fasilitator, motivator dan evaluator

Dalam belajar penemuan (Discovery Learning), terjadi perubahan paradigma terhadap peran guru. Guru bukan lagi sebagai pusat pembelajaran, tetapi guru memiliki peran sebagai berikut :

1.        Merencanakan pelajaran demikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.

2.        Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Materi pelajaran itu diarahkan pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan. Guru mulai dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh siswa-siswa. Kemudian guru mengemukakan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbullah masalah. Dalam keadaan yang ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesanmencob yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis-hipotesis, dan mencoba menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang mendasari masalah itu.

3.        Guru harus memperhatikan tiga cara penyajian, yaitu cara enaktif (melakukan aktifitas), cara ikonik (dengan gambar atau visualisasi), dan cara simbolik. Dengan kata lain, perkembangan kognitif individu dapat ditingkatkan dengan cara menata strategi pembelajaran sesuai dengan isi bahan akan dipelajari dan karakteristik kognitif individu.

4.        Bila siswa memecahkan masalah di laboratoniumseoran secara teoretis, guru berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi ia hendaknya rnemberikan saran-saran bilamana diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada


waktu yang tepat. Umpan balik sebagai perbaikan hendaknya diberikan dengan cara demikian rupa, hingga siswa tidak tergantung pada pertolongan guru. Akhirnya siswa harus melakukan sendiri fungsi tutor itu.

5.        Pènilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang prinsip- prinsip dasar mengenai suatu bidang studi, dan kemampuan siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini  bentuk tes dapat berupa tes objektif, tes essay, penilaian autentik dan penilaian performance. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa guru berperan sebagai tutor, fasilitator, motivator dan evaluator. Dengan kata lain, guru tidak harus mengendalikan proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru. Selain itu, dalam belajar penemuan, teman dan siswa memiliki perang yang sangat penting. Sebagaimana diuraikan di atas, dalam teori Bruner, lebih menekankan agar siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siwa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya. Oleh karena itu, guru harus mengupayakan agar setiap siswa berpartisipasi aktif, motivasi dan minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk mencapai tujuan tertentu.

 

E.      Kelebihan Dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif

Setiap teori pembelajaran jika dibandingkan dengan teori pembelajaran yang lain, maka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu setiap teori pembelajaran juga melengkapi dan menambah dari kekurangan teori-teori pembelajaran yang lain. Teori pembelejaran kognitif memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut (Nurhadi, 2018: 19):

a.         Kelebihan :

-   Menjadikan siswa untuk lebih kreatif dan mandiri. Dengan teori belajar kognitif dituntu supaya kreatif karena tidak hanya merespon dan menerima


rangsangan, namun untuk memproses informasi yang diperoleh dan berpikir untuk menemukan ide-ide dan mengembangkan pengetahuan.

-   Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah. Teori belajar kognitif ini mampu membantu siswa agar bisa lebih memahami bahan belajar karena siswa harus menjadi peserta aktif dalam proses pembelajaran yang berfokus pada bagaimana siswa mengingat, mengambil, dan menyimpan informasi di dalam memori otak.

-   Menurut para ahli kognitif itu sama artinya dengan kreasi atau pembuatan satu hal baru atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada, maka dari itu dalam metode belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada atau menginovasi hal yang yang sudah ada menjadi lebih baik lagi.

-   Metode kognitif ini mudah untuk diterapkan dan juga telah banyak diterapkan pada pendidikan di Indonesia dalam segala tingkatan.

-   Sebagian besar dalam kurikulum pendidikan negara Indonesia lebih menekankan pada teori kognitif yang mengutamakan pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki pada setiap individu

b.        Kekurangan :

-   Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan karena sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut dan beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami

-   Pada dasarnya teori kognitif ini lebih menekankan pada kemampuan ingatan peserta didik, sehingga kelemahan yang terjadi di sini adalah selalu menganggap semua peserta didik mempunyai kemampuan daya ingat yang sama dan tidak dibeda-bedakan. Padahal semua peserta didik memiliki kekuatan ingatan masing-masing.

-   Metode ini tidak memperhatikan cara peserta didik dalam mengeksplorasi atau mengembangkan pengetahuan dan dengan cara yang berbeda.

-   Apabila dalam pengajaran hanya menggunakan metode kognitif, maka dipastikan peserta didik tidak akan mengerti sepenuhnya materi yang diberikan.

-   Dalam menerapkan metode pembelajran kognitif perlu diperhatikan kemampuan peserta didik untuk mengembangkan suatu materi yang telah diterimanya.


Adapaun kelebihan dan kekurangan dari teori belajar kognitif menurut Jeane Piaget dan Vygotsky.

Jeane Piaget:

Kelebihan:

-   Kemampuan memproses informasi tergantung kepada faktor kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya.

-   Siswa mempunyai kemampuan memproses informasi-informasi baru yang diterimanya.

Kekurangan:

 

-   Menyatakan bahwa teori Piaget tidak mampu menjelaskan struktur, proses dan fungsi kognitif dengan jelas.

Vygotsky:

Kelebihan : Anak diberikan kesempatan yang besar untuk meningkatkan zona perkembangan proksimalnya melalui belajar dan berkembang

Kekurangan: Menyatakan bahwa teori Piaget tidak mampu menjelaskan struktur, proses dan fungsi kognitif dengan jelas.


Comments