Teori Konstruktivistik
A.
Teori Belajar Konstruktivistik
Teori belajar
konstruktivistik bermula dari gagasan Piaget dan Vygotsky, Piaget dan Vygotsky
berpendapat bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang
telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam
upaya memahami informasi-informasi baru. Keduanya menekankan adanya hakikat
sosial dari belajar. Pembelajaran kooperatif, berbasis kegiatan dan penemuan
merupakan pilihan yang sesuai untuk pembelajaran. Hakekat dari teori
konstruktivistik adalah bahwa siswa harus secara individu menemukan dan
menerapkan informasi-informasi kompleks ke dalam situasi lain apabila mereka
harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Siswa berperan aktif dalam
pembelajaran, sedangkan guru adalah membantu membuat kondisi yang memungkinkan
siswa untuk secara mandiri menemukan fakta, konsep atau prinsip.
Menurut Wina Sanjaya
(2008: 264) bahwa “konstruktivistik adalah proses membangun atau menyusun
pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Guru
bukanlah pemberi informasi, dan jawaban atas semua masalah yang terjadi di
kelas”.
Selanjutnya Aunurrahman (2009: 28) bahwa:
“konstruktivistik memberikan arah yang jelas bahwa kegiatan belajar merupakan
kegiatan aktif dalam upaya menemukan pengetahuan, konsep, kesimpulan, bukan
sekedar merupakan kegiatan mekanistik untuk mengumpulkan informasi atau fakta
saja”.
Menurut faham
konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang
mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada
orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang
diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi
proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga
terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk
pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Constructivism
(konstruktivisme) merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran
kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2010:
113).
Adapun ciri-ciri
pembelajaran yang konstruktivistik yaitu:
1. Pengetahuan
dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2. Belajar
adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3. Belajar
merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4. Pengetahuan
tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi
atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan
orang lain.
5. Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik, penilaian harus terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah. (Yulaelawati, 2004: 54)
Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini adalah
sebagai berikut:
1. Adanya
motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2. Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3. Membantu
siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
4. Mengembangkan
kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
Lebih menekankan pada
proses belajar bagaimana belajar itu.
B. Peletak Dasar Paham
Konstruktivistik
Ahli psikologi Eropa
Jean Piaget dan Lev Vygotsky serta Ahli Psikologi Amerika Jerome Bruner
merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme. Mereka merupakan
peletak dasar paham konstruktivisme dengan kajiannya bertahun-tahun dalam
bidang psikologi dan perkembangan intelektual anak.
Jean Piaget (1886-1980)
adalah seorang ahli psikologi Swiss, yang mendalami bagaimana anak berpikir dan
berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual. Piaget menjelaskan
bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus dan
berusaha memahami dunia sekitarnya.
Lebih lanjut Piaget mengemukakan
bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan
informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis
tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi
pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi
pengetahuan awal mereka.
Lev Vygotsky
(1896-1834) adalah ahli psikologi Rusia. Menurutnya perkembangan intelektual
anak terjadi pada saat berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang. Mereka
berusaha untuk memecahkan masalah yang muncul dari pengalaman ini. Dalam upaya
mendapatkan pengalaman baru, Individu mengaitkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru.
Jerome Bruner adalah
seorang ahli psikologi Harvard. Jerome Bruner dan koleganya mengemukakan teori
pendukung penting yang kemudian dikenal sebagai pembelajaran penemuan.
Pembelajaran penemuan adalah suatu pembelajaran yang menekankan pentingnya
membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu,
perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajarannya terjadi melalui
penemuan pribadi. Menurut Bruner bahwa menemukan sesuatu oleh murid memakan
waktu yang lebih banyak, apa yang dapat diajarkan dalam waktu 30 menit, mungkin
memerlukan 4-5 jam, yakni merumuskan masalah, merencanakan cara memecahkannya,
melakukan percobaan, membuat kesalahan, berpikir untuk mengatasinya, dan
akhirnya menemukan penyelesaiannya tak ternilai harganya bagi cara belajar
selanjutnya atas kemampuan sendiri.
Cara belajar yang terbaik menurut Bruner adalah memahami konsep, arti, dan hubungan dan sampai pada suatu kesimpulan. Dengan teorinya: Free Discovery Learning”, Bruner mengatakan bahwa: “Proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya” (Budiningsih, 2005: 43)
C. Prinsip-Prinsip Konstruktivistik
Secara garis besar, prinsip-prinsip
konstruktivistik yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1. Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri
2. Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan
murid sendiri untuk menalar
3. Murid
aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan
konsep ilmiah
4. Guru
sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan
lancar.
5. Menghadapi
masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur
pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari
dan menilai pendapat siswa
8. Menyesuaikan
kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari prinsip-prinsip tersebut di atas hanya terdapat satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.
D. Konstruktivistik dalam Pembelajaran
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu. Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru (Budiningsih, 2005: 59).
Kegiatan belajar dalam kelas konstruktivis adalah seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan meng encourage’ (mendorong) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa.
Pendekatan konstruktivistik dalam pengajaran, merupakan penerapan pembelajaran kooperatif secara luas, berdasarkan teori bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok, untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Sekali lagi, penekanan pada hakikat sosial dalam belajar dan penggunaan kelompok sejawat untuk memodelkan cara berpikir dan sesuai dan saling mengemukakan dan meluruskan kekeliruan pengertian atau miskonsepsi-miskonsepsi diantara mereka sendiri.
Dalam hal ini siswa
dihadapkan pada proses berpikir teman sebaya mereka; metode ini tidak hanya
membuat hasil belajar terbuka untuk seluruh siswa tetapi juga membuat proses
berpikir siswa lain lebih terbuka untuk seluruh siswa.
Istilah kooperatif memberikan gambaran bahwa adanya hubungan yang terjadi antara dua orang atau lebih. Hubungan ini dapat berupa kerjasama dan saling membutuhkan dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang mungkin timbul, sehingga mereka yang terlibat didalamnya mempunyai keberanian dalam memecahkan suatu permasalahan bahkan akan lebih mudah dipecahkan.
Pembelajaran
konstruktivistik meliputi empat tahapan yaitu:
- Apersepsi.
Pada tahap ini dilakukan kegiatan menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang merupakan konsep prasyarat. Misalnya: mengapa baling-baling dapat berputar.
- Eksplorasi.
Pada tahap ini siswa mengungkapkan dugaan sementara terhadap konsep yang mau dipelajari. Kemudian siswa menggali menyelidiki dan menemukan sendiri konsep sebagai jawaban dari dugaan sementara yang dikemukakan pada tahap sebelumnya, melalui manipulasi benda langsung.
- Diskusi
dan Penjelasan Konsep.
Pada tahap ini siswa mengkomunikasikan hasil penyelidikan dan temuannya, pada tahap ini pula guru menjadi fasilitator dalam menampung dan membantu siswa membuat kesepakatan kelas, yaitu setuju atau tidak dengan pendapat kelompok lain serta memotivasi siswa mengungkapkan alasan dari kesepakatan tersebut melalui kegiatan tanya jawab.
- Pengembangan
dan Aplikasi.
Pada tahap ini guru
memberikan penekanan terhadap konsep-konsep esensial, kemudian siswa membuat
kesimpulan melalui bimbingan guru dan menerapkan pemahaman konseptual yang
telah diperoleh melalui pembelajaran saat itu melalui pengerjaan tugas.
E. Kelebihan dan Kekurangan Teori
Psikologi Belajar Konstruktivistik
Pada dasarnya tidak
terdapat pendekatan, strategi, metode, gaya atau pola mengajar yang paling baik
untuk semua materi pelajaran, yang ada adalah sesuai atau tidak dengan materi
pelajaran pada waktu dan kondisi pelaksanaannya. Oleh karena itu guru
diharapkan menguasai berbagai macam pendekatan, strategi, metode, gaya atau
pola mengajar sebab setiap pendekatan, strategi, metode, gaya atau pola
mengajar memiliki kelebihan dan kekurangan.
- Kelebihan
Adapun kelebihan dari pembelajaran
berdasarkan konstruktivistik adalah sebagai berikut:
a. Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan
menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan
mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b. Memberi
pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau
rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas
pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai
fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan
tentang fenomena yang menantang siswa.
c. Memberi
siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong
siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori,
mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
d. Memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk
memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang
telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan
berbagai strategi belajar.
e. Mendorong
siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan
mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan
mereka.
f. Memberikan
lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan,
saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
2.
Kekurangan
Adapun kekurangan dari pembelajaran
berdasarkan konstruktivistik adalah sebagai berikut:
a. Siswa
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi
siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuwan sehingga menyebabkan
miskonsepsi.
b. Konstruktivistik
menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti
membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang
berbeda-beda.
c. Situasi
dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana
prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.
d. Ketidaksiapan
murid untuk merancang strategi, berpikir dan menilai sendiri pengajaran
berdasarkan pengalamannya sendiri. Tidak semua murid mempunyai pengalaman yang
sama, masalah ini kadang menyebabkan aktivitas pengajaran menjadi tidak
bermakna bagi siswa.
F. Lingkungan Pembelajaran
Konstruktivistik
Dalam konstruktivistik, terdapat lima
unsur penting dalam lingkungan pembelajarannya, yaitu:
- Memperhatikan
dan Memanfaatkan Pengetahuan Awal Siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
- Pengalaman
Belajar yang Bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari, dan juga penerapan konsep.
- Adanya
Lingkungan Sosial yang Kondusif
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
- Adanya Dorongan Agar Siswa Bisa
Mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
- Adanya
Usaha Untuk Mengenalkan Siswa Tentang Dunia Ilmiah
Sains bukan hanya
produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap.
Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan
siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.
Comments
Post a Comment