Brain Based Learning
A. Pengertian Teori belajar berbasis Otak
Pada tahun 1970, Paul McClean mulai memperkenalkan konsep
Triune Theory yang mengacu pada proses evolusi tiga bagian otak manusia. Dalam
hipotesisnya, McClean menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari tiga bagian
penting yaitu otak besar, otak tengah, dan otak kecil dengan masing – masing
memiliki fungsi yang khas dan unik. Otak besar berfungsi untuk berbahasa,
berpikir, belajar, memecahkan masalah, merencanakan dan menciptakan. Otak
tengah berfungsi untuk interaksi sosial, emosional, dan ingatan jangka panjang.
Otak kecil berfungsi untuk bereaksi, naluriah, mengulang, mempertahankan diri,
dan ritualis
Dari teori tersebut dikembangkan suatu model pembelajaran
yang disebut Brain Based Learning. Brain Based Learningadalah sebuah teori yang
mengoptimalkan fungsi otak sebagai komponen utama dalam proses pembelajaran.
Pada dasarnya, Brain Based Learning memfungsikan pengalaman sesungguhnya dalam
proses pembelajaran. Brain Based Learning atau teori belajar berbasis otak
adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara
alamiah untuk belajar.
Pada pembelajaran berbasis otak, peserta didik belajar
sesuai dengan fungsi otak mereka sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan
terkekang dalam proses pembelajaran. Untuk itu, metode pendidikannya dapat
melalui penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya
proses belajar secara bebas dan sesuai dengan minat dan bakatnya masing- masing
Dalam teori ini, guru dan peserta didik ditekankan untuk
kreatif dalam proses belajar yang seimbang antara otak kanan dan otak kiri,
sehingga materi yang disampaikan dapat diserap menjadi memori jangka panjang
dalam otak mereka dan mereka dapat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru
di sekolah.
Teori belajar berbasis otak ini adalah suatu pendekatan
multidisipliner yang dibangun atas
sebuah pertanyaan fundamental. Teori belajar ini,
dapat mendorong peserta didik untuk
mempertimbangkan masalah alamiah otak dalam membuat keputusan.
B. Karakteristik Teori Belajar Berbasis
Otak
Karakteristik dari brain based
learning adalah pembelajaran yang berupaya memadukan faktor potensi diri siswa
dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Dalam hal ini, lingkungan dan kemampuan pikiran atau
potensi diri siswa harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang
seimbang agar pembelajaran berhasil dengan baik.
Selain itu, brain based learning juga
menekankan pada proses pembelajaran berlangsung dengan cepat dengan
keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang dapat
melambatkan proses pembelajaran harus dihilangkan. Berbagai cara dapat
dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan,
lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi
segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus diciptakan dan
dikelola sebaik-baiknya, agar tujuan pembelajaran tercapai. Selanjutnya, brain
based learning juga mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses
pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran
bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.
Dalam hal ini, karakteristik brain based
learning lebih menekankan pada lingkungan kelas yang mendukung siswa untuk
belajar. Siswa dipersiapkan secara fisik dan psikis sebelum mengawali
pembelajaran dengan brain gym. Selanjutnya siswa duduk sesuai kelompoknya untuk
berdiskusi menyelesaikan permasalahan yang telah diberikan. Dari hasil diskusi
tersebut, siswa mempersentasikan hasil diskusi kelompok dikelas dan kelompok
lain menanggapinya. Setelah itu siswa melakukan relaksasi dengan mendengarkan
musik agar siswa lebih nyaman dan tidak merasa tegang dalam belajar.
C. Prinsip Brain Based Learning Dalam Pembelajaran
Ada 12 prinsip kerja otak yang dipaparkan oleh Caine, prinsip inilah
yang nantinya digunakan untuk dasar
belajar berbasis
otak. tujuan memperhatikan penggunaan prinsip ini agar pendidik dapat menyusun strategi
pengajaran yang sesuai. dibawah ini adalah prinsip kerja otak beserta penjelasanya.
1.
The Brain is a
Complex Adaptive System.
Menurut prinsip ini, otak
merupakan pusat dari berbagai aktivitas manusia, menggabungkan emosi,
imajinasi untuk memproses informasi dalam satu waktu secara bersama.
2.
The Brain is a
Social Brain.
Menurut prinsip ini otak manusia akan merasa senang apabila
melakukan kegiatan bersosialisasi atau berkelompok.
3.
The Search for Meaning is Innate.
Otak manusia menyukai akan pemahaman atau penjelasan sesuatu yang
dipelajari.
4.
The Search for meaning Occurs Through Patterning.
Otak manusia pada waktu melakukan pencarian makna atau
penjelasan dengan cara meniru.
5.
Emotions Are Critical to Patterning
Menurut John Mayer dan Peter Salovey, otak yang memiliki
Emotional Intellegence (EQ) akan lebih sukses daripada orang yang memiliki IQ
tinggi. Karena EQ mempengaruhi perasaan optimis seseorang.
6.
Every Brain Simultaneously Perceive and Creats Parts
and Wholes
Walaupun otak kanan dan kiri manusia memiliki fungsi yang
berbeda, namun kedua otak ini berinteraksi dalam semua aktivitas
7.
Learning Involves Both Focused Attention and
Peripheral Perception
Pada saat belajar, otak melibatkan perhatian yang fokus dan persepsi
yang meluas.
8.
Learning Always Involves Both
Conscious and Unconscious Processes
Belajar selalu melibatkan proses sadar dan tidak sadar.
9.
We Have at Least Two Ways of
Organizing Memory
Kita memiliki dua sistem memori yaitu spasial dan hafalan.
Memori spasial dapat merekam semua yang terjadi pada tubuh. Memori hafalan
dapat me-recall sistem- sistem ini termotivasi oleh reward atau hukuman.
10.
Learning is Developmental
Otak manusia terdiri dari milyaran sel neuron yang tumbuh
terus menerus sesuai dengan hal baru yang dipelajari.
11.
Complex Learning is
Enhanced by Challenge and Inhibited by
Threat
Otak dapat belajar secara
optimal dan menciptakan koneksi maksimum saat menerima
tantangan. Sebaliknya, otak menjadi ridak fleksibel dan kembali padakelakuan primitif ketika di bawah ancaman.
12.
Every Brain Is Uniquely Organized
Keunikan otak semua orang memiliki sistem otak yang sama,
namun secara keseluruhan daya berfiki, imajinatif dan kreatif setiap orang
berbeda.
D.
Tahapan Brain Based Learning Dalam
Pembelajaran
Jansen (2011) menyatakan ada tujuh tahapan teori belajar berbasis otak,
yaitu :
1.
Tahap Pra- Pemaparan
Tahap ini memberikan sebuah alasan
kepada otak tentang pembelajaran baru sebelum benar – benar menggali lebih
jauh, pra – pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang lebih baik.
Hal – hal yang dilakukan pada tahap ini sebelum pembelajaran dimulai adalah
guru memajang peta konsep mengenai materi yang akan dipelajari. Selain itu,
guru juga perlu melakukan pendekatan kepada peserta didik sehingga peserta
didik merasa nyaman dalam pembelajaran dengan guru yang akan mengajar mereka.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran peserta didik untuk melakukan senam otak
bisa dengan cara menyuruh peserta didik menuliskan nama
merepa
pada kertas dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri secara bersamaan.
2.
Tahap Persiapan
Pada tahap ini, guru memberikan
penjelasan awal mengenai materi yang akan dipelajari dan mengaitkan materi
dengan kehidupan sehari – hari. Fase ini merupakan fase dalam menciptakan
keingintahuan atau kesenangan.
3.
Tahap Inisiasi dan
Akuisisi
Tahap ini merupakan tahap penciptaan
koneksi atau pada saat neuron – neuron
itu saling berkomunikasi satu sama lain. Pada
tahap ini, guru membagi siswa
menjadi beberapa kelompok. Siswa bergabung
dengan teman kelompoknya masing-masing. Kemudian, guru memberikan lembar
kerja siswa pada setiap kelompok
untuk dipelajari sebelum
diisi. Setelah itu, siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya untuk mengisi
lembar kerja siswa tersebut.
4.
Tahap Elaborasi
Tahap ini memberikan kesempatan kepada
otak untuk menyelediki, menganalisis, menguji dan memperdalam pembelajaran.
Pada tahap ini, siswa
mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas, sedangkan siswa lain memperhatikan sekaligus memberikan
tanggapan atau pertanyaan. Dari hasil diskusi yang dilakukan, diharapkan siswa mampu menemukan jawaban
dari permasalahan yang ada di lembar kerja siswa. Oleh karena itu, guru harus
membimbing siswa berdiskusi agar proses diskusi berjalan dengan lancar. Tahap
ini merupakan tahap pemrosesan dimana membutuhkan kemampuan berpikir murni dari pihak
pembelajaran.
5.
Tahap Inkubasi dan Memasukkan Memori
Fase ini menekankan pentingnya waktu
istirahat dan waktu untuk mengulang kembali merupakan suatu hal yang penting.
Pada tahap ini, siswa melakukan peregangan sambil menonton
video yang dapat memotivasi mereka
untuk belajar. Selain itu, guru juga dapat
memberikan soal-soal pemahaman yang berkaitan dengan materi yang dipelajari selama pembelajaran
berlangsung.
6.
Tahap Verifikasi dan Pengecekan Keyakinan
Dalam tahap ini, guru mengecek apakah
siswa sudah paham dengan materi yang telah dipelajari atau belum. Siswa juga
perlu tahu apakah dirinya sudah memahami materi atau belum. Tahap ini, guru
dapat memberikan soal latihan yang lebih rumit. Setelah itu guru dan siswa
mengecek pekerjaan siswa. Jika siswa belum mengerjakan soal-soal tersebut,
biasanya guru menugaskan siswa untuk menyelesaikan dirumah.
7.
Tahap Selebrasi dan
Integrasi
Dalam tahap ini sangat penting dalam
melibatkan emos, membuat tahap ini lebih ceria dan menyenangkan. Tahap ini
menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar. Pada tahap ini,
siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang baru saja dipelajari.
Kemudian guru memberikan PR
(Pekerjaan Rumah) untuk siswa dan memberi tahu siswa
mengenai materi untuk pertemuan selanjutnya. Sebagai penutup, guru bersama
siswa melakukan perayaan kecil, seperti bersorak dan bertepuk tangan bersama.
E.
Strategi Pembelajaran Brain Based Learning.
Terdapat tiga strategi utama yang dapat
dikembangkan dalam pengimplementasian brain based learning.
1.
Menciptakan lingkungan belajar yang menantang
kemampuan berpikir siswa.
Contoh kecil yang dapat diterapkan untuk merealisasikan
strategi tersebut adalah guru memberikan sebuah studi kasus atau soal-soal yang
berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan dan dipelajari oleh para siswa.
Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi kemampun berpikir siswa guna memancing
antusiasme serta mengukur sejauh apa pemahaman siswa terhadap materi yang
diajarkan. Selain itu sebisa mungkin soal dibuat seaktraktif dan semenarik
mungkin seperti teka-teki, simulasi game, dan sebagainya sehingga siswa tidak
cepat bosan dan kemampuan pemberdayaan potensi otak meningkat. Semakin
berkembangnya zaman, guru juga bisa memanfaatkan teknologi yang ada dalam
proses mengajar. Seperti video, games, presentasi dengan banyak tampilan
menarik, dan lain sebagainya.
2.
Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan.
Situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman
atau tidak senang ketika mengikuti pembelajaran sangatlah berpengaruh besar
terhadap pengimplementasian Brain Based Learning. Situasi yang tidak nyaman
membuat kemampuan berpikir siswa lebih menurun
dibandingkan biasanya. Selain itu siswa
akan tidak fokus ketika sedang belajar. Beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan adalah belajar di luar kelas pada saat-saat tertentu. Kemudian
mengiringi pembelajaran dengan
musik yang sesuai, seperti suara hujan atau music klasik yang bisa menenangkan pikiran
dan bisa saja membuat siswa lebih tenang
dan konsentrasi ketika belajar. Selain itu membuat permainan-permainan yang seru sesuai dengan pembelajaran yang
dilakukan serta adanya diskusi kelompok sehingga siswa tidak hanya diam dan berpikir sendiri melainkan
bisa bertukar pendapat dengan kelompoknya.
3.
Menciptakan situasi pembelajaran
yang aktif dan bermakna bagi siswa (active learning).
Siswa dapat dirangsang melalu kegiatan pembelajaran yang
dapat membangun pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran dengan cara
melalui pembelajaran aktif yang mereka lakukan sendiri. Seperti menjelaskan
materi di depan kelas, melakukan presentasi secara berkelompok, mencatat
materi, melakukan permainan yang telah disiapkan, atau cara belajar aktif
lainnya yang mereka sukai. Karena tiap siswa memiliki cara belajar yang
berbeda-beda. Menurut konsep konstruktivisme pendidikan, keberhasilan belajar
siswa ditentukan oleh seberapa besar kemampuan mereka membangun pemahaman
terhadap materi yang diajarkan berdasarkan pengalaman belajar mereka.
F.
Kelebihan dan Kekurangan Teori
Belajar Berbasis Otak.
Adapun kelebihan
dan kekurangan model brain based learning adalah sebagai berikut:
Ø
Kelebihan model pembelajaran brain-based learning
1) Memberikan suatu
pemikiran baru tentang bagaimana otak bekerja.
2) Memerhatikan kerja
alamiah otak pebelajar dalam prosespembelajaran.
3) Menciptakan iklim
pembelajaran di mana pebelajar dihormati dan
didukung.
4) Menghindari
pemforsiran terhadap kerja otak.
5)
Dapat menggunakan berbagai model dalam proses pembelajaran untuk mengaplikasikan
teori brain-based learning ini.
Ø Kelemahan
pembelajaran berbasis kemampuan otak
1)
Tenaga kependidikan di Indonesia
belum sepenuhnya mengetahui tentang teori pembelajaran berbasis otak
2)
Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk memahami atau
mempelajari bagaimana otak bekerja.
3)
Memerlukan biaya yang tidak sedikit
untuk menciptakan pembelajaran yang baik bagi otak.
Comments
Post a Comment