Teori Behavioristik
A. Pengertian Teori Behavioristik
Teori
belajar behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku
manusia. Menurut Desmita (2009:44) teori belajar behavioristik merupakan teori
belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif,
mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri
seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain,
mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan
pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan dengan mengamati kegiatan
bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respons (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar apabila
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons.
Stimulus adalah sesuatu yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respons
berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru
tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respons tidak penting untuk
diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat
diamati adalah stimulus dan respons, oleh karena itu ,apa yang diberikan oleh
guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respons) harus dapat diamati
dan diukur (Putrayasa, 2013:42). Teori behavioristik menekankan pada kajian
ilmiah mengenai berbagai respon perilaku yang dapat diamati dan penentu
lingkungannya. Teori belajar behavioristik berpengaruh terhadap pengembangan
teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal dengan aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar.
Untuk mempermudah mengenal teori behavioristik dapat di
pergunakan ciri – ciri sebagai berikut :
1.
Mementingkan pengaruh lingkungan
(environmentalistis)
2.
Mementingkan bagian – bagian (elentaristis)
3.
Mementingkan peranan reaksi (respon)
4.
Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil
belajar
5.
Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu
yang lalu
6.
Mementingkan pembentukan kebiasaan
7. Ciri khusus dalam
pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal” atau trial and error.
Pembelajaran
behaviorisme bersifat molekular, artinya lebih menekankan kepada elemen-elemen
pembelajaran, memandang kehidupan individu terdiri dari unsur-unsur seperti halnya
molekul.30 Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini, dalam
belajar yang penting adalah adanya input berupa simulus dan output yang berupa
respon. Para ahli yang mengembangkan teori ini antara lain E. L. Thorndike,
Ivan Pavlov, B. F. Skinner.
B. Tokoh Tokoh Teori Belajar Behavioristik
1. John B. Watson
Menurut
Desmita (2009:44), behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah
laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878- 1958), seorang ahli
psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika.
Perspektif behavioristik berfokus pada peran dari belajar dan menjelaskan
tingkah laku manusia. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini
bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan yang diramalkan dan
dikendalikan. Menurut Watson dan para ahli lainnya meyakini bahwa tingkah laku manusia
merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau
situasional. Tingkah laku dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak
rasional. Hal ini didasari dari hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan
memanipulasi tingkah laku.
Manusia
adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh factor-faktor
berasal dari luar. Salah satu faktor tersebut yaitu faktor lingkungan yang
menjadi penentu dari tingkah laku manusia. Berdasarkan pemahaman ini,
kepribadian individu dapat dikembalikan kepada hubungan antara individu dan
lingkungannya. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian individu
semata-mata bergantung pada lingkungan. Menurut teori ini, orang terlibat di
dalam tingkah laku karena telah mempelajarinya melalui pengalaman-pengalaman
terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah-hadiah. Orang
menghentikan tingkah laku, karena belum diberi hadiah atau telah mendapatkan
hukuman . Semua tingkah laku, baik bermanfaat atau merusak merupakan tingkah
laku yang dipelajari oleh manusia.
Menurut
Watson (dalam Putrayasa, 2013:46), belajar sebagai proses interaksi antara
stimulus dan respons, stimulus dan respons yang dimaksud harus dapat diamati
dan dapat diukur. Oleh sebab itu seseorang mengakui adanya perubahan-perubahan
mental dalam diri selama proses belajar. Seseorang menganggap faktor tersebut
sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson
adalah seorang behavioris murni, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Watson
berasumsi bahwa hanya dengan cara demikianlah akan dapat diramalkan
perubahan-perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.
2. Ivan P. Pavlov
Paradigma
kondisioning klasik merupakan karya besar Ivan P. Pavlov (1849-1936), ilmuwan
Rusia yang mengembangkan teori perilaku melalui percobaan tentang anjing dan
air liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov, karena perangsang yang asli dan
netral atau rangsangan biasanya secara berulang-ulang dipasangkan dengan unsur
penguat yang menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral disebut perangsang
bersyarat atau berkondisioner, yang disingkat dengan CS (conditioned stimulus).
Penguatnya adalah perangsang tidak bersyarat atau US (unconditioned stimulus).
Reaksi alami atau reaksi yang tidak dipelajari disebut reaksi bersyarat atau CR
(conditioned response). Pavlov mengaplikasikan istilah-istilah tersebut sebagai
suatu penguat.Maksudnya setiap agen seperti makanan, yang mengurangi sebagian
dari suatu kebutuhan. Dengan demikian dari mulut anjing akan keluar air liur
(UR) sebagai reaksi terhadap makanan (US). Apabila suatu rangsangan netral,
seperti sebuah bel atau genta (CS) dibunyikan bersamaan dengan waktu penyajian
maka peristiwa ini akan memunculkan air liur (CR) (Desmita, 2005:55)
Melalui
paradigma kondisioning klasiknya, Pavlov memperlihatkan anjing dapat dilatih
mengeluarkan air liur bukan terhadap rangsang semula (makanan), melainkan
terhadap rangsang bunyi. Hal ini terjadi pada waktu memperlihatkan makanan
kepada anjing sebagai rangsang yang menimbulkan air liur, dilanjutkan dengan
membunyikan lonceng atau bel berkali-kali, akhirnya anjing akan mengeluarkan
air liur apabila mendengar bunyi lonceng atau bel, walaupun makanan tidak
diperlihatkan atau diberikan. Disini terlihat bahwa rangsang makanan telah
berpindah ke rangsang bunyi untuk memperlihatkan jawaban yang sama, yakni
pengeluaran air liur. Paradigma kondisioning klasik ini menjadi paradigma
bermacam -macam pembentukan tingkah laku yang merupakan rangkaian dari satu
kepada yang lain. Kondisioning klasik ini berhubungan pula dengan susunan saraf
tak sadar serta otot-ototnya. Dengan demikian emosional merupakan sesuatu yang
terbentuk melalui kondisioning klasik (Desmita, 2005:56)
Teori
belajar pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan karena
satu stimulus dan rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lainnya dalam
mengembangkan suatu respon.Prosedur ini disebut klasik karena prioritas
historisnya seperti dikembangkan Pavlov. Kata clasical yang mengawali nama
teori ini semata-mata dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang dianggap
paling dahulu di bidang conditioning (upaya pengkondisian) dan untuk
membedakannya dari teori conditioning lainnya. Perasaan orang belajar bersifat
pasif karena untuk mengadakan respon perlu adanya suatu stimulus tertentu,
sedangkan mengenai penguat menurut pavlov bahwa stimulus yang tidak terkontrol
(unconditioned stimulus) mempunyai hubungan dengan penguatan. Stimulus itu yang
menyebabkan adanya pengulangan tingkah laku dan berfungsi sebagai penguat
(Zulhammi, 2015).
3. B.F. Skinner
Skinner
adalah seorang psikolog dari Harvard yang telah berjasa mengembangkan teori
perilaku Watson. Pandangannya tentang kepribadian disebut dengan behaviorisme
radikal.Behaviorisme menekankan studi ilmiah tentang respon perilaku yang dapat
diamati dan determinan lingkungan. Dalam behaviorisme Skinner, pikiran, sadar
atau tidak sadar, tidak diperlukan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan.
Menurut Skinner, perkembangan adalah perilaku. Oleh karena itu para behavioris
yakin bahwa perkembangan dipelajari dan sering berubah sesuai dengan
pengalaman-pengalaman lingkungan. Untuk mendemonstrasikan pengkondisian operan
di laboratorium, Skinner meletakkan seekor tikus yang lapar dalam sebuah kotak,
yang disebut kotak Skinner. Di dalam kotak tersebut, tikus dibiarkan melakukan
aktivitas, berjalan dan menjelajahi keadaan sekitar. Dalam aktivitas itu, tikus
tanpa sengaja menyentuh suatu tuas dan menyebabkan keluarnya makanan. Tikus
akan melakukan lagi aktivitas yang sama untuk memperoleh makanan, yakni dengan
menekan tuas. Semakin lama semakin sedikit aktivitas yang dilakukan untuk
menyentuh tuas dan memperoleh makanan. Disini tikus mempelajari hubungan antara
tuas dan makanan. Hubungan ini akan terbentuk apabila makanan tetap merupakan
hadiah bagi kegiatan yang dilakukan tikus (Desmita. 2005:57).
Kondisioning
operan juga melibatkan proses-proses belajar dengan menggunakan otot-otot
secara sadar yang memunculkan respons yang diikuti oleh pengulangan untuk
penguatan. Tetapi hal ini masih dipengaruhi oleh rangsang rangsang yang ada
dalam lingkungan, yakni kondisi dan kualitas serta penguatan terhadap
rangsangnya mempengaruhi jawaban-jawaban yang akan diperlihatkan. Oleh sebab
itu, penguatan pengulangan rangsang-rangsang diperlihatkan sesuatu jawaban
tingkah laku yang diharapkan merupakan hal penting pada kondisioning
operan.Agar suatu jawaban atau tingkah laku yang baru dapat terus
diperlihatkan, diperlukan penguatan rangsangan sekunder atau melalui penguatan
rangsangan yang terencana (Desmita, 2005:58).
Konsep-konsep
dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh
sebelumnya. Skinner menjelaskan konsep belajar secara sederhana, tetapi lebih
komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi
melalui interaksi dengan lingkungannya, kemudian menimbulkan perubahan tingkah
laku yang tidak sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya.
Menurutnya respons yang diterima seseorang tidak sesederhana demikian, karena
stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar
stimulus tersebut yang mempengaruhi respons yang dihasilkan. Respons yang
diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi
tersebut nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000).Oleh karena
itu,dalam memahami tingkah laku seseorang secara harus memahami hubungan antara
stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin
dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang timbul akibat respons tersebut.
Skinner juga mengemukakan dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai
alat menjelaskan tingkah laku yang hanya menambah rumitnya masalah, sebab
setiap alat yang digunakan perlu penjelasan (Putrayasa, 2013:48).
4. Teori Belajar Behavioristik Menurut Edward
Thorndike
Menurut Thorndike, adalah proses interaksi
antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat
pula berupa pikiran, perasaan atau gerakan / tindakan. Jadi perubahan tingkah
laku akibat belajar dapat berwujud konkrit, yaitu dapat diamati, atau tidak
konkrit yaitu tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
“Teori Connectionism”.
Dasar-dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike
(1874-1949) diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap
perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang
untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan
“reasoning” atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses
berpikir dasar.
Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu :
1. Law
Of Effect (Dalil / Hukum Sebab Akibat)
Dalil / hukum ini menunjukkan kuat lemahnya hubungan stimulus
dan respon tergantung kepada akibat yang ditimbulkan. Apabila respon yang
ditimbulkan mendatangkan kesenangan, maka respon tersebut akan dipertahankan
atau diulang ; sebaliknya jika respon yang ditimbulkan adalah hal yang tidak
menyenangkan, maka respon tersebut dihentikan atau tidak diulang lagi.
2. Law
Of Exercise (Dalil / Hukum Latihan Atau Pembiasaan)
Dalil / hukum ini menunjukkan bahwa stimulus dan respon akan
semakin kuat manakala terus menerus dilatih atau diulang ; sebaliknya hubungan
stimulus dan respon akan semakin melemah jika tidak pernah dilatih atau
dilakukan pengulangan.
3. Law
Of Readiness (Dalil / Hukum Kesiapan)
Menurut dalil / hukum ini, hubungan antara stimulus dan respon
akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Jika seorang
ada kesiapan untuk merespon atau bertindak, maka tindakan yang dilakukan akan
memberi kepuasan dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan
tindakan-tindakan lain.
Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan, Thorndike lalu
menyimpulkan tentang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar
berikutnya, yang dikenal dengan proses “transfer
of learning”. Thorndike mengemukakan bahwa latihan yang dilakukan dan
proses belajar yang terjadi dalam mempelajari suatu konsep akan membantu
penguasaan atau proses belajar seorang terhadap konsep lain yang sejenis atau
mirip (associative shifting). Teori
Connectionism dari Thorndike ini dikenal sebagai teori belajar yang pertama.
C. Tujuan Pembelajaran Teori Behavioristik
Tujuan pembelajaran menurut teori
behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai
aktivitas mimetic, yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali
pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang
terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke
keseluruhan.
1. Berkomunikasi atau
transfer perilaku adalah penggambaran pengetahuan dan kecakapan peserta didik
(tidak mempertimbangkan proses mental)
2. Pengajaran adalah
untuk memperoleh keinginan respon dari peserta didik yang dimunculkan dari
stimulus
3. Peserta didik harus
mengenali bagaimana mendapatkan respon sebaik mungkin pada kondisi respon
diciptakan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara
ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku
wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku
teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil
belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif,
keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test.
Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar
menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa
pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang
sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan
setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada
kemampuan pebelajar secara individual.
D. Prinsip-Prinsip Teori Behavioristik
Dalam pembelajaran behaviorisme pembelajaran merupakan penguasan
respons (Acquisition of responses) dari lingkungan yang dikondisikan. Peserta
didik haruslah melihat situasi dan kondisi apa yang yang menjadi bahan
pembelajaran. Berikut ini adalah prinsip-prinsip pembelajaran behavioristik
Menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku.
1. Menggunakan prinsip
penguatan, yaitu untuk mengidentifikasi aspek paling diperlukan dalam
pembelajaran untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai
peningkatan yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran.
2. Mengidentifikasi
karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Lebih menekankan pada
hasil belajar daripada proses pembelajaran.
4. Dan Skinner juga
memuat dalam bukunya tentang prinsip-prinsip behavioristik, berikut ini prinsip
yang dikemukakan oleh skinner dalam bukunya yang berjudul The Behavior of
Organism.
Beberapa prinsip Skinner:
1. Hasil belajar harus
segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi
penguat.
2. Proses belajar harus
mengikuti irama dari yang belajar.
3. Materi pelajaran,
digunakan sistem modul.
4. Dalam proses
pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk
menghindari adanya hukuman.
5. Dalam proses
pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
6. Tingkah laku yang
diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan
digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
7. Dalam pembelajaran
digunakan shaping.
Prinsip-prinsip belajar Thorndike :
1. Pada saat seseorang berhadapan
dengan situasi yang bagi dia termasuk baru, berbagai ragam respon maka akan ia
lakukan. Respon tersebut ada kalanya berbeda-beda sampai yang bersangkutan
memperoleh respon yang benar.
2. Apa yang ada pada diri seseorang,
baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal lain yang telah ada
pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
3. Pada diri seseorang sebenarnya
terdapat potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur penting dari
yang kurang atau tidak penting hingga akhirnya dapat menentukan respon yang
tepat.
4. Orang cenderung memberikan respon
yang sama terhadap situasi yang sama.
5. Orang cenderung menghubungkan respon
yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala menyadari bahwa respon yang ia
kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.
E. Kelebihan dan Kelemahan Teori Behavioristik
Kelebihan Teori Behavioristik.
1)
Tumbuhnya kreativitas peserta didik
Dengan belajar aktif dan mengenali
diri maka kreatifitas ang sesuai dengan karakternya akan muncul dengan
sendirinya. Dengan begitu akan muncul keragaman karya. Jika berlanjut kepada
nilai jual misalnya maka itu juga akan menambah pemasukan atau paling tidak ada
perasaan senang karena karyanya dihargai.
2)
Semakin canggihnya teknologi maka akan semakin maju perkembangan
belajarnya
Canggihnya teknologi ternyata mampu
membangun motivasi dalam diri peserta didik untuk belajar. Hal inilah yang
membuat pikirannya terasah untuk menemukan pengetahuan baru.
3)
Tugas guru berkurang
Dengan peserta didik yang melibatkan
dirinya dalam proses belajar itu juga akan mengurangi tugas guru karena guru
hanyalah fasilitator peserta didik. Guru tidak lagi memberikan ‘ceramah’ yang
panjang, cukup dengan memberikan pengarahan-pengarahan.
4)
Mendekatkan satu dengan yang lainnya
Bimbingan guru kepada peserta didik
akan mempererat hubungan antar keduanya. Seringnya berkomunikasi akan
menciptakan suasana yang nyaman karena peserta didik tidak merasa takut atau
tertekan. Begitupun antar peserta didik. Berdiskusi atau belajar kelompok akan
membuat persahabatan semakin erat, memahami satu sama lain, menghargai
perbedaan dan menumbuhkan rasa tolong menolong.
5) Membangun Konsentrasi Individu
Behaviorisme ini menuntut setiap
pembelajar untuk melahirkan kebiasaan konsentrasi. Ini berlandaskan agar
pembelajar selalu siap dalam merespon segala hal yang diberikan pengajar.
6) Sesuai dengan Pemahaman Belajar
pada Anak
Teori ini sangat cocok untuk kalangan anak-anak karena dalam belajar
masih membutuhkan dominasi orang tua. Apalagi mereka cenderung belajar untuk
meniru setiap apa yang dilakukan orang tuanya. Ini bisa bermanfaat untuk
membangung pola pikir dan respon cepat untuk menciptakan konsentrasi pada anak.
Kekurangan Teori Behavioristik.
1)
Pemahaman yang kurang jelas dapat menghambat pembelajaran
Guru biasanya tidak memberikan
informasi yang lengkap sehingga peserta didik yang kurang referensi akan
kesulitan untuk belajar.
2)
Kebebasan yang diberikan akan cenderung disalahgunakan
Misal saja guru menugaskan peserta
didik untuk berdiskusi sesuai kelompok, pasti ada beberapa peserta didik yang
mengandalkan teman atau tidak mau bekerja sama.
3)
Pemusatan pikiran akan berkurang
Dalam hal ini guru tidak sepenuhnya
mengawasi karena system belajar yang seperti ini adalah siswa yang berperan
aktif menggali potensi, sehingga peserta didik akan memanfaatkan keadaan yang
ada. Misal dalam mencari referensi menggunakan internet peserta didik malah
bermain game atau mengaktifkan akun sosial media. Secara otomatis pemusatan
pikiran dalam belajar akan terganggu.
4)
Kecurangan-kecurangan yang semakin menjadi tradisi
Dalam pembuatan tugas peserta didik
yang malas akan berinisiatif mengcopy pekerjaan temannya. Ini akan mengurangi
kepercayaan guru maupun temannya.
5) Hanya Berpusat pada Tenaga
Pendidik
Pembelajaran yang berlandaskan
behaviorisme ini dalam penerapannya berfokus pada guru yang menjelaskan suatu
materi. Bila guru tidak kreatif dalam penjelasan ilmu pengetahuan, maka
pembelajar akan bosan dan mengurangi daya kreatif dan aktif pembelajar.
6) Lebih Mengutamakan Hafalan dibandingkan
Latihan
Penekanan lain pada behaviorisme
adalah penekanan pada hafalan. Karena umur teori ini sudah tua maka hasil dari
penerapan cenderung ketat dan pembelajar akan kekurangan referensi tentang cara
berpikir.
7) Kaku dan Membosankan
Karena berfokus pada guru,
pembelajaran ini akan berjalan kurang menyenangkan dan yang pasti akan
membosankan bilamana guru tidak kreatif dalam menjelaskan materi.
8) Individu Dibentuk Menjadi Pasif
dan Tidak Inovatif
Siswa dituntut untuk terus menerima
ilmu dari guru dan belajar menggapai tujuan seperti nilai akan membuat siswa
menjadi pasif dan kurang inovatif.
Comments
Post a Comment