Teori Behavioristik

 

A.    Pengertian Teori Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku manusia. Menurut Desmita (2009:44) teori belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain, mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respons (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar apabila dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons. Stimulus adalah sesuatu yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respons tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respons, oleh karena itu ,apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respons) harus dapat diamati dan diukur (Putrayasa, 2013:42). Teori behavioristik menekankan pada kajian ilmiah mengenai berbagai respon perilaku yang dapat diamati dan penentu lingkungannya. Teori belajar behavioristik berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal dengan aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Untuk mempermudah mengenal teori behavioristik dapat di pergunakan ciri – ciri sebagai berikut :

1.    Mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)

2.    Mementingkan bagian – bagian (elentaristis)

3.    Mementingkan peranan reaksi (respon)

4.    Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar

5.    Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu

6.    Mementingkan pembentukan kebiasaan

7.    Ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal” atau trial and error.

Pembelajaran behaviorisme bersifat molekular, artinya lebih menekankan kepada elemen-elemen pembelajaran, memandang kehidupan individu terdiri dari unsur-unsur seperti halnya molekul.30 Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa simulus dan output yang berupa respon. Para ahli yang mengembangkan teori ini antara lain E. L. Thorndike, Ivan Pavlov, B. F. Skinner.

B.    Tokoh Tokoh Teori Belajar Behavioristik

1.     John B. Watson

Menurut Desmita (2009:44), behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878- 1958), seorang ahli psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif behavioristik berfokus pada peran dari belajar dan menjelaskan tingkah laku manusia. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan yang diramalkan dan dikendalikan. Menurut Watson dan para ahli lainnya meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional. Tingkah laku dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak rasional. Hal ini didasari dari hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan memanipulasi tingkah laku.

Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh factor-faktor berasal dari luar. Salah satu faktor tersebut yaitu faktor lingkungan yang menjadi penentu dari tingkah laku manusia. Berdasarkan pemahaman ini, kepribadian individu dapat dikembalikan kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian individu semata-mata bergantung pada lingkungan. Menurut teori ini, orang terlibat di dalam tingkah laku karena telah mempelajarinya melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah-hadiah. Orang menghentikan tingkah laku, karena belum diberi hadiah atau telah mendapatkan hukuman . Semua tingkah laku, baik bermanfaat atau merusak merupakan tingkah laku yang dipelajari oleh manusia.

Menurut Watson (dalam Putrayasa, 2013:46), belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respons, stimulus dan respons yang dimaksud harus dapat diamati dan dapat diukur. Oleh sebab itu seseorang mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri selama proses belajar. Seseorang menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Watson berasumsi bahwa hanya dengan cara demikianlah akan dapat diramalkan perubahan-perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.

2.     Ivan P. Pavlov

Paradigma kondisioning klasik merupakan karya besar Ivan P. Pavlov (1849-1936), ilmuwan Rusia yang mengembangkan teori perilaku melalui percobaan tentang anjing dan air liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov, karena perangsang yang asli dan netral atau rangsangan biasanya secara berulang-ulang dipasangkan dengan unsur penguat yang menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral disebut perangsang bersyarat atau berkondisioner, yang disingkat dengan CS (conditioned stimulus). Penguatnya adalah perangsang tidak bersyarat atau US (unconditioned stimulus). Reaksi alami atau reaksi yang tidak dipelajari disebut reaksi bersyarat atau CR (conditioned response). Pavlov mengaplikasikan istilah-istilah tersebut sebagai suatu penguat.Maksudnya setiap agen seperti makanan, yang mengurangi sebagian dari suatu kebutuhan. Dengan demikian dari mulut anjing akan keluar air liur (UR) sebagai reaksi terhadap makanan (US). Apabila suatu rangsangan netral, seperti sebuah bel atau genta (CS) dibunyikan bersamaan dengan waktu penyajian maka peristiwa ini akan memunculkan air liur (CR) (Desmita, 2005:55)

Melalui paradigma kondisioning klasiknya, Pavlov memperlihatkan anjing dapat dilatih mengeluarkan air liur bukan terhadap rangsang semula (makanan), melainkan terhadap rangsang bunyi. Hal ini terjadi pada waktu memperlihatkan makanan kepada anjing sebagai rangsang yang menimbulkan air liur, dilanjutkan dengan membunyikan lonceng atau bel berkali-kali, akhirnya anjing akan mengeluarkan air liur apabila mendengar bunyi lonceng atau bel, walaupun makanan tidak diperlihatkan atau diberikan. Disini terlihat bahwa rangsang makanan telah berpindah ke rangsang bunyi untuk memperlihatkan jawaban yang sama, yakni pengeluaran air liur. Paradigma kondisioning klasik ini menjadi paradigma bermacam -macam pembentukan tingkah laku yang merupakan rangkaian dari satu kepada yang lain. Kondisioning klasik ini berhubungan pula dengan susunan saraf tak sadar serta otot-ototnya. Dengan demikian emosional merupakan sesuatu yang terbentuk melalui kondisioning klasik (Desmita, 2005:56)

Teori belajar pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan karena satu stimulus dan rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lainnya dalam mengembangkan suatu respon.Prosedur ini disebut klasik karena prioritas historisnya seperti dikembangkan Pavlov. Kata clasical yang mengawali nama teori ini semata-mata dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang dianggap paling dahulu di bidang conditioning (upaya pengkondisian) dan untuk membedakannya dari teori conditioning lainnya. Perasaan orang belajar bersifat pasif karena untuk mengadakan respon perlu adanya suatu stimulus tertentu, sedangkan mengenai penguat menurut pavlov bahwa stimulus yang tidak terkontrol (unconditioned stimulus) mempunyai hubungan dengan penguatan. Stimulus itu yang menyebabkan adanya pengulangan tingkah laku dan berfungsi sebagai penguat (Zulhammi, 2015).

3.     B.F. Skinner

Skinner adalah seorang psikolog dari Harvard yang telah berjasa mengembangkan teori perilaku Watson. Pandangannya tentang kepribadian disebut dengan behaviorisme radikal.Behaviorisme menekankan studi ilmiah tentang respon perilaku yang dapat diamati dan determinan lingkungan. Dalam behaviorisme Skinner, pikiran, sadar atau tidak sadar, tidak diperlukan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan. Menurut Skinner, perkembangan adalah perilaku. Oleh karena itu para behavioris yakin bahwa perkembangan dipelajari dan sering berubah sesuai dengan pengalaman-pengalaman lingkungan. Untuk mendemonstrasikan pengkondisian operan di laboratorium, Skinner meletakkan seekor tikus yang lapar dalam sebuah kotak, yang disebut kotak Skinner. Di dalam kotak tersebut, tikus dibiarkan melakukan aktivitas, berjalan dan menjelajahi keadaan sekitar. Dalam aktivitas itu, tikus tanpa sengaja menyentuh suatu tuas dan menyebabkan keluarnya makanan. Tikus akan melakukan lagi aktivitas yang sama untuk memperoleh makanan, yakni dengan menekan tuas. Semakin lama semakin sedikit aktivitas yang dilakukan untuk menyentuh tuas dan memperoleh makanan. Disini tikus mempelajari hubungan antara tuas dan makanan. Hubungan ini akan terbentuk apabila makanan tetap merupakan hadiah bagi kegiatan yang dilakukan tikus (Desmita. 2005:57).

Kondisioning operan juga melibatkan proses-proses belajar dengan menggunakan otot-otot secara sadar yang memunculkan respons yang diikuti oleh pengulangan untuk penguatan. Tetapi hal ini masih dipengaruhi oleh rangsang rangsang yang ada dalam lingkungan, yakni kondisi dan kualitas serta penguatan terhadap rangsangnya mempengaruhi jawaban-jawaban yang akan diperlihatkan. Oleh sebab itu, penguatan pengulangan rangsang-rangsang diperlihatkan sesuatu jawaban tingkah laku yang diharapkan merupakan hal penting pada kondisioning operan.Agar suatu jawaban atau tingkah laku yang baru dapat terus diperlihatkan, diperlukan penguatan rangsangan sekunder atau melalui penguatan rangsangan yang terencana (Desmita, 2005:58).

Konsep-konsep dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Skinner menjelaskan konsep belajar secara sederhana, tetapi lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku yang tidak sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya respons yang diterima seseorang tidak sesederhana demikian, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus tersebut yang mempengaruhi respons yang dihasilkan. Respons yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi tersebut nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000).Oleh karena itu,dalam memahami tingkah laku seseorang secara harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang timbul akibat respons tersebut. Skinner juga mengemukakan dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat menjelaskan tingkah laku yang hanya menambah rumitnya masalah, sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan (Putrayasa, 2013:48).

4. Teori Belajar Behavioristik Menurut Edward Thorndike

Menurut Thorndike, adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan atau gerakan / tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat belajar dapat berwujud konkrit, yaitu dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan “Teori Connectionism”.

Dasar-dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949) diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan “reasoning” atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.

Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu :

1.      Law Of Effect (Dalil / Hukum Sebab Akibat)

Dalil / hukum ini menunjukkan kuat lemahnya hubungan stimulus dan respon tergantung kepada akibat yang ditimbulkan. Apabila respon yang ditimbulkan mendatangkan kesenangan, maka respon tersebut akan dipertahankan atau diulang ; sebaliknya jika respon yang ditimbulkan adalah hal yang tidak menyenangkan, maka respon tersebut dihentikan atau tidak diulang lagi.

2.      Law Of Exercise (Dalil / Hukum Latihan Atau Pembiasaan)

Dalil / hukum ini menunjukkan bahwa stimulus dan respon akan semakin kuat manakala terus menerus dilatih atau diulang ; sebaliknya hubungan stimulus dan respon akan semakin melemah jika tidak pernah dilatih atau dilakukan pengulangan.

3.      Law Of Readiness (Dalil / Hukum Kesiapan)

Menurut dalil / hukum ini, hubungan antara stimulus dan respon akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Jika seorang ada kesiapan untuk merespon atau bertindak, maka tindakan yang dilakukan akan memberi kepuasan dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan tindakan-tindakan lain.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan, Thorndike lalu menyimpulkan tentang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang dikenal dengan proses “transfer of learning”. Thorndike mengemukakan bahwa latihan yang dilakukan dan proses belajar yang terjadi dalam mempelajari suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seorang terhadap konsep lain yang sejenis atau mirip (associative shifting). Teori Connectionism dari Thorndike ini dikenal sebagai teori belajar yang pertama.

C.    Tujuan Pembelajaran Teori Behavioristik

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.             

1.    Berkomunikasi atau transfer perilaku adalah penggambaran pengetahuan dan kecakapan peserta didik (tidak mempertimbangkan proses mental)

2. Pengajaran adalah untuk memperoleh keinginan respon dari peserta didik yang dimunculkan dari stimulus

3.  Peserta didik harus mengenali bagaimana mendapatkan respon sebaik mungkin pada kondisi respon diciptakan.

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

 

 

D.    Prinsip-Prinsip Teori Behavioristik

Dalam pembelajaran behaviorisme pembelajaran merupakan penguasan respons (Acquisition of responses) dari lingkungan yang dikondisikan. Peserta didik haruslah melihat situasi dan kondisi apa yang yang menjadi bahan pembelajaran. Berikut ini adalah prinsip-prinsip pembelajaran behavioristik Menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku.

1.   Menggunakan prinsip penguatan, yaitu untuk mengidentifikasi aspek paling diperlukan dalam pembelajaran untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai peningkatan yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran.

2.  Mengidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran.

3.     Lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses pembelajaran.

4.     Dan Skinner juga memuat dalam bukunya tentang prinsip-prinsip behavioristik, berikut ini prinsip yang dikemukakan oleh skinner dalam bukunya yang berjudul The Behavior of Organism.

Beberapa prinsip Skinner:

1.     Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.

2.     Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

3.     Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

4.     Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.

5.     Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.

6.     Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.

7.     Dalam pembelajaran digunakan shaping.

 

Prinsip-prinsip belajar Thorndike :

1.       Pada saat seseorang berhadapan dengan situasi yang bagi dia termasuk baru, berbagai ragam respon maka akan ia lakukan. Respon tersebut ada kalanya berbeda-beda sampai yang bersangkutan memperoleh respon yang benar.

2.       Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai.

3.       Pada diri seseorang sebenarnya terdapat potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur penting dari yang kurang atau tidak penting hingga akhirnya dapat menentukan respon yang tepat.

4.       Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama.

5.       Orang cenderung menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.

E.    Kelebihan dan Kelemahan Teori Behavioristik

Kelebihan Teori Behavioristik.

 1)  Tumbuhnya kreativitas peserta didik

Dengan belajar aktif dan mengenali diri maka kreatifitas ang sesuai dengan karakternya akan muncul dengan sendirinya. Dengan begitu akan muncul keragaman karya. Jika berlanjut kepada nilai jual misalnya maka itu juga akan menambah pemasukan atau paling tidak ada perasaan senang karena karyanya dihargai.

2)  Semakin canggihnya teknologi maka akan semakin maju perkembangan belajarnya

Canggihnya teknologi ternyata mampu membangun motivasi dalam diri peserta didik untuk belajar. Hal inilah yang membuat pikirannya terasah untuk menemukan pengetahuan baru.

3)  Tugas guru berkurang

Dengan peserta didik yang melibatkan dirinya dalam proses belajar itu juga akan mengurangi tugas guru karena guru hanyalah fasilitator peserta didik. Guru tidak lagi memberikan ‘ceramah’ yang panjang, cukup dengan memberikan pengarahan-pengarahan.

4)  Mendekatkan satu dengan yang lainnya

Bimbingan guru kepada peserta didik akan mempererat hubungan antar keduanya. Seringnya berkomunikasi akan menciptakan suasana yang nyaman karena peserta didik tidak merasa takut atau tertekan. Begitupun antar peserta didik. Berdiskusi atau belajar kelompok akan membuat persahabatan semakin erat, memahami satu sama lain, menghargai perbedaan dan menumbuhkan rasa tolong menolong.

5) Membangun Konsentrasi Individu

Behaviorisme ini menuntut setiap pembelajar untuk melahirkan kebiasaan konsentrasi. Ini berlandaskan agar pembelajar selalu siap dalam merespon segala hal yang diberikan pengajar.

6) Sesuai dengan Pemahaman Belajar pada Anak

Teori ini sangat cocok  untuk kalangan anak-anak karena dalam belajar masih membutuhkan dominasi orang tua. Apalagi mereka cenderung belajar untuk meniru setiap apa yang dilakukan orang tuanya. Ini bisa bermanfaat untuk membangung pola pikir dan respon cepat untuk menciptakan konsentrasi pada anak.

 

Kekurangan Teori Behavioristik.

 1)  Pemahaman yang kurang jelas dapat menghambat pembelajaran

Guru biasanya tidak memberikan informasi yang lengkap sehingga peserta didik yang kurang referensi akan kesulitan untuk belajar.

2)  Kebebasan yang diberikan akan cenderung disalahgunakan

Misal saja guru menugaskan peserta didik untuk berdiskusi sesuai kelompok, pasti ada beberapa peserta didik yang mengandalkan teman atau tidak mau bekerja sama.

 3)  Pemusatan pikiran akan berkurang

Dalam hal ini guru tidak sepenuhnya mengawasi karena system belajar yang seperti ini adalah siswa yang berperan aktif menggali potensi, sehingga peserta didik akan memanfaatkan keadaan yang ada. Misal dalam mencari referensi menggunakan internet peserta didik malah bermain game atau mengaktifkan akun sosial media. Secara otomatis pemusatan pikiran dalam belajar akan terganggu.

4)  Kecurangan-kecurangan yang semakin menjadi tradisi

Dalam pembuatan tugas peserta didik yang malas akan berinisiatif mengcopy pekerjaan temannya. Ini akan mengurangi kepercayaan guru maupun temannya.

5) Hanya Berpusat pada Tenaga Pendidik

Pembelajaran yang berlandaskan behaviorisme ini dalam penerapannya berfokus pada guru yang menjelaskan suatu materi. Bila guru tidak kreatif dalam penjelasan ilmu pengetahuan, maka pembelajar akan bosan dan mengurangi daya kreatif dan aktif pembelajar.

6) Lebih Mengutamakan Hafalan dibandingkan Latihan

Penekanan lain pada behaviorisme adalah penekanan pada hafalan. Karena umur teori ini sudah tua maka hasil dari penerapan cenderung ketat dan pembelajar akan kekurangan referensi tentang cara berpikir.

7) Kaku dan Membosankan

Karena berfokus pada guru, pembelajaran ini akan berjalan kurang menyenangkan dan yang pasti akan membosankan bilamana guru tidak kreatif dalam menjelaskan materi.

8) Individu Dibentuk Menjadi Pasif dan Tidak Inovatif

Siswa dituntut untuk terus menerima ilmu dari guru dan belajar menggapai tujuan seperti nilai akan membuat siswa menjadi pasif dan kurang inovatif.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Kognitif